Sunan Kalijaga | Wali Sanga | Sang Maestro Dakwah Melalui Budaya

      Pada bab 10 pembelajaran pendidikan agama islam dan budi pekerti kelas X akan membahas mengenai salah satu tokoh Islam. Yakni salah satu tokoh dari anggota Wali Sanga, beliau adalah Sunan kalijaga/Raden Said. berikut adalah profil lengkapnya :


  • Nama Kecil : Raden said
  • Nama lain : Lokajaya, Syaikh Malaya, Pangeran Tuban, Ki Dalang Sida Brangti, dan Raden Abdurrahman
  • Tempat/Tahun Lahir : Tuban, sekitar tahun 1450M.
  • Nama Ayah : Raden Ahmad Sahuri (Tumamenggung walikota / Adipati Tuban VIII)
  • Nama Ibu : Dewi Retno Dumilah
  • Wafat : 1523, Kadilangu, Demak 
  • Makam : Kadilangu, Selatan Demak
  • Metode Dakwah : Melalui seni dan budaya, sama halnya dengan gurunya yaitu Sunan Bonang.
  • Kontribusi : Beliau ikut merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

BIOGRAFI SUNAN KALIJAGA

         Sunan Kalijaga, yang bernama asli Raden Said, diperkirakan lahir pada abad ke-15 M atau sekitar tahun 1450 M, pada masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit dan awal penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Ia merupakan putra dari seorang adipati di Kadipaten Tuban, yang dalam beberapa sumber disebut sebagai Tumenggung atau Adipati Wilatikta. Ayahnya adalah seorang bangsawan Majapahit yang memiliki jabatan tinggi dan dikenal taat pada pemerintahan pusat Majapahit, yang saat itu menganut agama Siwa-Buddha. Terdapat kisah bahwa Raden Said tidak setuju dengan kebijakan ayahnya, terutama dalam hal penerapan pajak yang tinggi kepada rakyat.
     

     Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, pembangkangan Raden Said terhadap ayahnya mencapai puncaknya ketika ia membongkar lumbung kadipaten dan membagikan padi kepada rakyat Tuban yang sedang menderita kelaparan akibat musim kemarau. Tindakannya ini membuat sang ayah marah dan menyidangnya. Saat itu, Raden Said mengkritik kebijakan ayahnya yang menumpuk makanan di tengah penderitaan rakyat. Karena dianggap lancang dan seolah mengguruinya dalam urusan agama dan pemerintahan, Raden Said akhirnya diusir dari kadipaten. Ia hanya diperbolehkan kembali setelah bisa “menggetarkan seisi Tuban” dengan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, yang dimaknai sebagai menjadi seseorang yang mumpuni dalam ilmu agama dan dihormati masyarakat.

       Berdasarkan kisah tutur yang populer, setelah terusir, Raden Said hidup sebagai seorang perampok. Namun, ia hanya merampok orang-orang kaya yang enggan berbagi kekayaan atau membayar zakat. Harta hasil rampokannya dibagikan kepada fakir miskin. Karena tindakannya itu, ia dijuluki "Lokajaya", yang berarti perampok budiman. Perjalanannya berubah ketika ia bertemu dengan Sunan Bonang (Syekh Maulana Makdum Ibrahim), yang kemudian menjadi gurunya. Sunan Bonang menyadarkan Raden Said agar tidak mencampuradukkan antara kebaikan dan keburukan. Setelah bertobat, Raden Said berguru kepadanya dan kelak dikenal sebagai Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam di Jawa melalui pendekatan budaya dan kesenian.



SEJARAH NAMA "KALIJAGA" 

         Asal-usul nama "Kalijaga" yang disandang Raden Said masih menjadi perdebatan hingga kini. Salah satu pendapat berasal dari masyarakat Cirebon, yang meyakini bahwa nama Kalijaga diambil dari Dusun Kalijaga di wilayah tersebut. Hal ini dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Cirebon yang menamai seseorang berdasarkan tempat tinggal atau aktivitasnya, seperti Syekh Syarif Hidayatullah yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati karena menetap di daerah Gunung Jati. Namun, hingga kini tidak ditemukan keberadaan sungai (kali) di sekitar Dusun Kalijaga. Padahal, di Jawa, penamaan wilayah biasanya mencerminkan ciri geografis atau potensi daerah tersebut, seperti Cirebon yang berasal dari "ci" (air) dan "rebon" (udang kecil), atau Pekalongan yang konon berkaitan dengan banyaknya kalong (kelelawar). Karena itu, klaim bahwa nama "Kalijaga" berasal dari dusun di Cirebon dianggap kurang kuat secara geografis maupun etimologis.

         Versi lain datang dari kalangan Kejawen atau penganut spiritualitas Jawa. Mereka menyebut bahwa Raden Said sering berendam atau bertapa di tepi kali (sungai), sehingga dijuluki "Kalijaga", yang berarti "penjaga kali (sungai)". Dalam cerita ini, Sunan Bonang disebut pernah memerintahkan Raden Said untuk bertapa di tepi sungai selama sepuluh tahun sebagai bagian dari proses spiritualnya. Versi ini menjadi yang paling populer di kalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah diangkat dalam film "Sunan Kalijaga" dan "Wali Sanga" pada era 1980-an.



KEHIDUPAN DAN WARISAN SUNAN KALIJAGA

         Sunan Kalijaga, diperkirakan hidup hingga usia sekitar 100 tahun. Ini berarti beliau menyaksikan masa akhir Kerajaan Majapahit (sekitar 1478 M), masa awal Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan masa awal Kerajaan Pajang dan Mataram Islam. Beberapa sumber menyebutkan bahwa beliau sempat tinggal di wilayah Cirebon, tepatnya di Dusun Kalijaga, dan bersahabat dengan Sunan Gunung Jati. Namun, namanya tidak disebut lagi dalam catatan sejarah ketika Jaka Tingkir mendirikan Kerajaan Pajang maupun saat munculnya Kerajaan Mataram. Makam Sunan Kalijaga kini berada di Demak, tepatnya di kompleks Masjid Agung Demak.
      

        Sunan Kalijaga dikenal memiliki banyak kisah yang melegenda, seperti bertapa menjaga sungai selama 10 tahun, mampu terbang, menurunkan hujan dengan menghentakkan kaki, hingga mengurung petir bersama Ki Ageng Selo di Masjid Demak. Ia juga dikenal sebagai arsitek dan perancang bangunan. Soko tatal (tiang dari pecahan kayu) di Masjid Agung Demak diyakini sebagai hasil rancangannya.



MEDIA DAKWAH SUNAN KALIJAGA

       Beliau dikenal sebagai tokoh yang toleran terhadap budaya lokal namun tetap tegas dalam hal akidah. Selama unsur budaya tidak bertentangan dengan prinsip Islam, beliau menerimanya sebagai media dakwah.

      Dalam dunia seni, Sunan Kalijaga berperan besar dalam transformasi wayang beber menjadi wayang kulit. Hal ini dilatarbelakangi oleh larangan Islam menggambar makhluk hidup secara utuh. Ia menggelar pertunjukan pewayangan keliling tanpa memungut biaya, dan mengajak masyarakat mengucap dua kalimat syahadat sebagai awal memeluk Islam. Baginya, dakwah dilakukan bertahap: syahadat lebih dahulu, lalu penguatan ibadah dan ilmu. Beliau yakin bahwa pemahaman Islam yang baik akan menggantikan kebiasaan lama dengan sendirinya.

          Cerita-cerita pewayangan yang dibawa Sunan Kalijaga tidak lagi menekankan kisah Mahabharata atau Ramayana versi Hindu, namun memakai tokoh-tokoh seperti Pandawa dan Kurawa dengan alur cerita baru yang sarat nilai Islam. Ia juga memperkenalkan lakon seperti "Layang Kalimasada" dan "Petruk Dadi Ratu", serta menambahkan karakter Punakawan yang mengandung filosofi Islam.

Beberapa istilah pewayangan tokoh punakawan yang diserap dari Bahasa Arab, seperti: 

  1. Dalang dari dalla (دلّ) yang berarti menunjukkan, merujuk pada peran dalang sebagai penunjuk jalan kebenaran.
  2. Semar dari simar (سِمَار) yang berarti paku, melambangkan keteguhan iman.
  3. Petruk dari fatruuk (فَاتْرُك) yang berarti tinggalkan, artinya meninggalkan kesyirikan.
  4. Gareng dari qariin (قَرِين) yang berarti teman, mengajak mencari teman menuju kebaikan.
  5. Bagong dari baghaa (بَغَى) yang berarti memberontak, yakni perlawanan terhadap kezaliman.

Seni ukir, gamelan, baju takwa, perayaan Sekaten, Grebeg Maulud, hingga suluk dijadikan alat dakwah, sebagaimana Rasulullah SAW menggunakan syair Al-Qur'an untuk menarik hati bangsa Arab yang gemar bersyair.

        Pertunjukan pewayangan ala Sunan Kalijaga mirip dengan metode Khalifah Umar bin Khattab yang menyusuri kampung untuk menyapa dan menghibur rakyat. Dari sini, terlihat bahwa Sunan Kalijaga adalah tokoh dakwah yang strategis, penuh hikmah, dan memiliki kepemimpinan spiritual yang Islami, bukan hanya berbasis tradisi Kejawen.

     Pendekatan dakwah Sunan Kalijaga dikenal bertahap, tidak langsung menuntut masyarakat mengamalkan seluruh ajaran Islam sekaligus, tetapi melalui pendekatan budaya hingga masyarakat memahami Islam secara utuh dan sukarela. 


PENUTUP

        Sunan Kalijaga adalah sosok ulama, budayawan, sekaligus negarawan. Warisannya tidak hanya dalam bentuk ajaran agama, tetapi juga dalam seni dan budaya yang hingga kini masih lestari. Pendekatan dakwahnya menunjukkan kebijaksanaan, kearifan lokal, serta kemampuan memahami psikologi masyarakat.


Penulis : Rayya Letisha Zeka Cahyana 

Asal : SMAN 2 PARE 

Kelas : X-11

No : 26

Ditulis pada : Sabtu, 24 Mei 2025 pukul 10.15 WIB 

Dipublikasi pada : Minggu, 25 Mei 2025 Pukul 11.38

Alasan : Melengkapi tugas PAPB bab 10 (tokoh Islam) kelas X





Komentar